Selasa, 02 Juli 2013
Awal Kemunculan
Di suatu desa, terlahir lah seorang bayi laki-laki imut yang dilahirkan dengan cara tak lazim bagi kita-kita makhluk biasa. Bayi tersebut terlahir disaat sang ibu sedang kramas di kamar mandi, tepat nya pukul 16:35 sore dirumah nya. Sang bapak yang mendengar jeritan si ibu, langsung mendekati kamar mandi yang sedang terkunci dari dalam. Si ibu meminta bapak nya memanggil dukun beranak, dan akhirnya dukun beranak pun menangani kelahiran ini. Bayi pun selamat. Hari-hari pun berlalu, si bayi pun sudah genap berumur 4 bulan. Bayi itu diberi nama Pomas. Tak tau kenapa si orang tua itu memberi nama si bayi dengan panggilan Pomas. Mungkin si orang tua berharap kepada si bayi agar saat dewasa, tinggi badan nya menjulang tinggi seperti menara Pomas yang ada di Jakarta mungkin..( itu Monas kalee).
Terlepas dari nama si bayi tersebut, ternyata di balik itu si bayi mempunyai keunikan yang jarang dimiliki bayi-bayi yang lain. Keunikan itu terletak di rambut sang bayi tersebut, entah kenapa rambut si bayi itu seperti rambut yang dimiliki model iklan-iklan shampo yang ada di tipi-tipi. Hitam, tebal, lurus itu lah rambut nya. Warga sekitar pun sampai sering memegang rambut si bayi itu tanpa ada rasa bosan dan canggung. Si ibu pun tak berpikir panjang, langsung memberikan peraturan. Ini isi peraturan nya "Diberitahukan untuk semua, bahwa yang ingin memegang rambut bayi saya, harap mengisi kotak yang ada di depan pintu rumah ini ! Terima Kasih". Si ibu mungkin berpikir, dengan ada nya peraturan ini tidak akan semakin banyak warga yang ingin memegang rambut si bayi tersebut dan otomatis warga yang ingin memegang rambut si bayi itu harus mengisi kotak yang ada dengan merogoh uang yang dimiliki nya. Mungkin ini cara yang menurutku smart but sly (pintar tapi licik). by the way, kalian berminat memegang rambut si bayi ? cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp.10.000 anda dapat memegang rambut yang tebal, halus yang jarang dimiliki bayi-bayi yang lain. Dijamin anda akan mendapatkan kepuasan tersendiri setelah memegang rambut si bayi tersebut. Gua sendiri sih ogah, kalau pun mau gua juga gak tau alamat rumah si pemilik bayi itu.
Oke guy's setelah si ibu itu memberlakukan aturan seperti itu, para warga dan kalangan masyakarat pun akhirnya berkurang sedikit-demi sedikit untuk mengunjungi si bayi tersebut. Sukurlah, kata ku. Sukurlah? iya.. ternyata para warga sudah sadar kalau itu semua cuma akan membuang uang-uang mereka dan juga tidak mungkin akan mempengaruhi impact ekonomi dunia saat ini. Astaga Nagaa..!!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar